Tampilkan postingan dengan label K3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label K3. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Belajar Sanitasi hingga ke Negeri Belanda

Holland Writing Competition 2015
Penulis : Khairil Ardhi
Tema : Air

“Tuntutlah ilmu hingga ke negeri china”, begitu pepatah yang sering kita dengar. Namun hal itu tidak untuk ilmu sanitasi. Untuk sanitasi belanda memang juaranya. Betapa tidak, banyak teknologi sanitasi  mereka telah mendunia sehingga tidak heran jika negeri Van Oranje ini menjadi kiblat banyak insinyur lingkungan. Berbagai inovasi teknologi terus mereka kembangkan mulai wadden marker, room of the river, new delta plan hingga yang terbaru hidrochip.


Bukti nyata teknologi sanitasi Belanda dapat kita lihat dari masa ke masa. Pada masa penjajahan, kita bisa melihat bagaimana Simon Stevin kala itu merancang Batavia dengan teknologi kanal yang pada masanya dijuluki sebagai kota surga abadi. Lalu lihat pula begitu banyak irigasi, perusahaan air minum dan saluran pembuangan air limbah yang dibangun di kota-kotaIndonesia pada masa penjajahannya. Eksistensi negara kincir angim tidak berhenti sampai disitu, kini dimasa Indonesia telah jaya, kita dapat melihat berbagai kerja sama bilateral di bidang air, diantaranya adalah bagaimana LSM Belanda SIMAVI menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarkat (Community Led Total Sanitation) yang bekerja sama dengan LSM Indonesia telah memberikan akses sanitasi kepada 500.000 orang untuk mendukung pencapaian MDGs (Mileinium Development Goals) di Indonesia.
Gambar 1. Delta Works Flood Protection in Netherlands
Sebagai seorang sanitarian saya sangat mengagumi belanda, negeri bunga tulip ini begitu lihai merencanakan dan membangun fasilitas sanitasi dinegaranya. Kekaguman ini bermula semenjak duduk dibangku kuliah ketika melihat dosen yang berencana mengambil gelar Doktornya disalah satu universitas Belanda. Beliau dengan semangat menggebu bercerita sambil memotivasi dan  meyakinkan kami bahwa memang benar Belanda adalah negara dengan sanitasi terbaik di dunia.

Sanitasi tidak hanya tentang air namun ada lingkungan udara dan tanah yang tidak terpisahkan dari siklusnya. Namun Belanda sangat memahami bahwa air merupakan elemen terpenting dari sanitasi. Air sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Air juga kebutuhan vital bagi manusia diantaranya sebagai air minum dan keperluan rumah tangga. Pengelolaan air juga tidak kalah pentingnya, air yang tidak di kelola dengan baik dapat menjadi sumber bencana seperti banjir dan air limbah yang menjadi sumber penyakit. Namun pengelolaan air dengan baik dapat menjadi sumber energi untuk kehidupan.

Secara geografis, Belanda merupakan negara berpermukaan rendah. Belanda juga sering disebut Nederland yang berarti negeri-negeri berdataran rendah. Permukaan tanahnya sangat rata sehingga hampir separuh dari daratannya berada kurang dari satu meter diatas permukaan laut. Dengan kondisi geografis seperti ni, Belanda sadar bahwa mereka berada di daerah rawan bencana.

Dalam sejarahnya, Belanda mengalami banjir pertama kali pada tahun 838, banjir All Saints pada tahun 1170, kemudian banjir St. Elizabeth pada tahun 1404 dan tahun 1421, banjir St. Felix pada tahun 1530, banjir semua santa pada tahun 1570, banjir natal pada tahun 1717, banjir zuiredence pada tahun 1916 dan banjir laut utara yang terjadi pada tahun 1953. Banjir yang terjadi pada tahun 1404 masuk kedalam sepuluh besar banjir terbesar yang pernah terjadi di dunia yang menenggelamkan 72 desa dan menelan korban hingga 10.000 jiwa.

Setelah dilanda banjir, Belanda berupaya menanggulanginya dengan membentuk Water Board pada tahun 1255. Water Board  atau dalam bahasa belanda dikenal sebagai Watercschappen atau Hoogheemraadschappen adalah badan pemerintah yang  bertanggung jawab mengenai banjir, kuantitas air, kualitas air dan pengelolaan air limbah. Dalam operasionalnya, Water Board  juga mengelola stasiun pompa, instalasi pengolahan air limbah, jalur air dan bangunan penahan banjir. Kini Water Board dengan teknologi dan inovasinya telah mampu mengelola air dengan baik.

Pengelolaan Air Bersih dan Air Limbah di Belanda

Awal mula pembangunan sanitasi di belanda terjadi ketika sistem penyediaan air bersih pertama dibangun pada tahun 1850. Saat itu angka kematian akibat water born disease sangat tinggi, namun seiring dilakukannya pembangunan fasilitas ini angka penyakit menurun ketika warga mendapat pasokan air bersih dengan kualitas yang baik. Memompa air dan mengalirkannya melalui media penyaringan pasir halus dilakukan Belanda untuk meningkatkan kualitas air bersihnya.

Sumber air di Belanda umumnya adalah air tanah dan air permukaan yang sebagian besar digunakan masyarakat yang berada di utara Belanda. Air permukaan yang mengandung kadar garam tinggi diolah dengan teknologi Kreegrug dan Drainzbuffer. Air hujan yang mengalami infiltrasi akan mengalir ke sungai dan waduk sehingga suplai air tetap terjaga. Menurut asosiasi pekerja air Belanda, kebocoran air dalam proses distribusi di bawah 6%, jauh dibawah negara-negara lain. Dengan ozonisasi, kini 99,9% penduduk belanda telah memliki akses air minum yang bebas klorin.

Belanda mulai mengelola air limbahnya pada tahun 1900. Pertumbuhan penduduk serta pembangunan pesat di belanda membuat kuantitas limbah semakin bertambah. Belanda terus melakukan  Inovasi pada  teknologi pengolahan air limbah. Pada tahun 2000, hampir 99% dari seluruh rumah tangga dan industri Belanda terhubung ke  sistem pengolahan air imbah terpadu.

Gambar 2. Salah satu instalasi pengolahan air limbah terpadu yang dikelola oleh Waterboard Vallei & Veluwe
Untuk menekan biaya dan mengatasi keterbatasan lahan yang tersedia, Belanda menggunakan Nereda yang merupakan teknologi baru. Nereda adalah pengolahan air limbah secara biologis yang memanfaatkan biomassa granular yang membentuk butiran lumpur sehingga limbah terkonsentrasi dengan baik. Proses ini membuat  pengolahan lebih cepat dan menghemat energi lebih dari 20%.

Air sebagai Sumber Energi Terbarukan

Pembangunan berwawasan lingkungan merupakan kunci keberlanjutan di masa mendatang. Pengelolaan air bersih dan air limbah yang dilakukan secara terpadu selain menghasilkan  kualitas air yang baik  juga menghasilkan limbah yang berasal dari pengolahan seperti lumpur dan sampah. Limbah yang dihasilkan dapat diolah dengan teknologi tertentu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Belanda dengan teknologinya menghasilkan energi dan bahan baku yang lebih ramah lingkungan dari limbah tersebut. Teknologi belanda ini banyak diadopsi negara lain yang juga berupaya melakukan pembangunan berkelanjutan.

Banyak teknologi Belanda yang telah terbukti menjadi sumber energi terbarukan. Diantaranya adalah biogas dari hasil pengolahan limbah secara biologis, pupuk lumpur  yang diolah dengan Phospat recovery hingga litrik yang dihasilkan dari putaran kincir angin. Dengan keberhasilannya, Belanda dijuluki negara dengan teknologi air terbaik. Kini eksistensi belanda mengelola air dapat ditemukan di banyak negara dengan berbagai program kerja sama pemerintah dan perusahaan Belanda yang bergerak di bidang air.

Referensi Tulisan
  1. Kedutaan Besar Kerjaan Belanda Jakarta Indonesia. Kerjasama pembangunan air [online], http://indonesia-in.nlembassy.org/organization/bagian-dalam-kedutaan/kerjasama pembangunan%5B2%5D/air.html. Diakses pada 24 April 2015
  2. Ministry of Infrastructure and the Environment, 2011. Water Management in the Netherlands [pdf], https://www.rijkswaterstaat.nl/en/images/Water%20Management%20in%20the%20Netherlands_tcm224-303503.pdf. Diakses pada 24 April 2015
  3. Ministry of Infrastructure and the Environment, 2014. Water Innovations in the Netherlands [pdf],  http://.org. Diakses pada 24 April 2015
  4. Van nereda RHDHV, 2015. Nareda, the Natural Way of Treating Wastewater [online], http://www.royalhaskoningdhv.com/en-gb/projects/nereda-the-natural-way-of-treating-wastewater/106. Diakses pada 24 April 2015

Referensi Gambar
  1. Delta Works Flood Protection in Netherlands, http://www.7wonders.org/europe/netherlands/rotterdam/delta-works/. Diakses pada 27 April 2015
  2. Salah satu instalasi pengolahan air limbah terpadu yang dikelola oleh Waterboard Vallei & Veluwe http://www.dutchwatersector.com/news-events/news/7159-waterboard-vallei-veluwe-starts-construction-energy-and-nutrient-facility-at-wwtp-amersfoort-the-netherlands.html. Diakses pada 27 April 2015

Senin, 08 Desember 2014

Tips Kesehatan Dalam Melakukan Perjalanan

Akhir tahun, waktu liburan sudah dekat; Tentu banyak teman yang akan melaukan perjalanan. Sebelum melakukan perjalanan, persiapkan diri anda untuk tetap sehat sebelum dan sesudah perjlanan. Untuk selengkapnya, silahkan baca artikel dibawah ini.

Di era globalisasi, perjalanan antar daerah bahkan negara dapat ditempuh dengan waktu singkat. Tidak mengherankan, Traveller sekarang tidak hanya untuk berwisata, bisnis, ibadah, study dan lain sebagainya. Sebelum melakukan perjalanan, tentu kesehatan kita harus prima bahkan setelah melakukan perjalanan kita harus tetap dalam kondisi sehat tanpa penyakit apapun.



Penyakit dapat datang kapanpun dan dimana saja, termasuk ketika kita sedang dalam perjalanan. Baik perjalanan didalam negeri ataupun luar negeri, semua mempunyai risiko untuk mengalami gangguan kesehatan. Untuk penyakit menular, risiko lebih besar mungkin terjadi jika kita mengunjungi daerah wabah atau endemis kasus penyakit tertentu. Misalnya Malaria didaerah Timur Indonesia, Mers-Cov dan meningitis di timur tengah merupakan penyakit yang sedang menyebar disana atau Ebola yang sedang mewabah di Afrika.

Lalu lintas orang, barang dan alat angkut antar daerah bahkan negara yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Hal tersebut meningkatkan resiko terjadinya gangguan kesehatan, tanpa disadari orang-orang dari daerah tertentu, barang-barang, bahkan alata angkut menjadi ancaman yang berbahaya bagi kesehatan.
Kesehatan teramat penting dari pada hanya sekedar berwisata atau bisnis yang dapat dilakukan kapanpun. Kesehatan anda bukan sebuah keberuntungan, jangan pertaruhkan kesehatan karena “nasib” yang mujur, apalagi berspekulasi. Jangan salahkan siapapun ketika pulang liburan membawa penyakit untuk keluarga atau lingkungan anda.

Tentu berbagai gangguan kesehatan yang mengancam bukan menjadi kendala bagi anda yang ingin melakukan perjalanan. Berbagai risiko tersebut dapat dicegah jika anda lebih care  dan tidak berspekulasi dengan kemujuran anda dalam melakukan kesehatan.


Untuk itu dianjurkan bagi traveller mengetahui upaya pencegahan gangguan kesehatan sebelum melakukan perjalanan. Upaya tersebut apat dilakukan dengan :
  1. Personal Hygiene yang baikPersonal hygiene atau kebersihan pribadi merupakan tindakan untuk memelihara kebersihan sehingga kondisi fisik dan psikologis sseseorang dalam keadaan sehat. Kulit yang terawat, mandi dengan bersih, kebersihan mulut, perawatan mata, hidung dan telinga, perawatan rambut, perawatan kaki dan kuku merupakan bagian-bagian dari personal hygiene.
  2. Membawa persediaan obat-obatan“Sedia payung sebelum hujan”, begitu peribahasnaya. Persediaan obat-obatan sebelum melakukan  perjalanan sangat dianjurkan. Kita tidak tahu kapan kita  kan sakit, selain itu memiliki persedian obat-obatan tentu akan menghemat biaya kita dalam melakukan perjalanan jika suatu saat kita membutuhkan obat.
  3. Menginap di penginapan dengan sanitasi yang baik. Ketika melakukan perjalanan, memilih tempat yang murah dan mudah diakses merupkan hal yang penting. Tidak kalah penting juga anda memilih penginapan yang sanitasinya baik. Tentu anda tidak ingin tidur dikasur yang terlihat bersih namun terdaoat kutu disekitar kasur anda. Air yang tidak sehat, keberadaan seranggga, Air Circullation  yang tidak bersih juga menjadi sarang penyakit.
  4. Makanan yang sehat. Tidak semua orang selera dengan menu masakan yang ada didaerah yang kita tuju. Selain menu, kebesihan makanan juga menjadi hal yang harus diiingat ketika melakukan perjlanan. entu sangat menjengkelkan ketika anda harus sakit perut atau keracunan makanan ketika melakukan perjalanan. Makanan tidak matang, dibuat dari bahan yang tidak sehat, wadah makanan yang tidak saniter serta tempat dan tenaga pengolah makanan yang tidak sehat merupakan hal yang harus anda perhatikan ketika memutuskan untuk memesan makanan.
  5. Vaksinasi. Tidak melihat seberapa penting atau seberapa banyak mengeluarkan uang untuk memvaksinasi diri anda. Ketika mengunjungi daerah atau negara yang sedang terjadi wabah penyakit tertentu sudah sepantasnya kita untuk mencegah penyakit. Jangan pertaruhkan kesehatan dengan melawan bahaya yang terlihat  jelas dengan menganggap tindakan pencegahan merupakan hal yang tidak berguna.
  6. Sedia asuransi kesehatanSelain sakit, kecelakaan juga menjadi risiko bahaya ketika melakukan perjalanan. Tentu tidak terbayangkan ketika anda mengalami kecelakaan di negeri orang dan tidak memiliki uang yang cukup untuk biaya pengonatan. Kepemilikan asurani menjadi senjata ampuh untuk mencegah hal tersebut.
Tips diatas bukan menjadi penghambat untuk melakukan perjalanan. Sebelum melakukan perjalanan hendaknya kita mengetahui secara pasti situasi daerah yang akan kita tuju, baik kemanan ataupun situasi kesehatannya. Tentu saja perjalanan tidak akan berjalan dengan baik ketika harus sakit dan memtuskan untuk mengakhiri perjalanan secepat mungkin. Jangan pertaruhkan kesehatan anda dengan ketidak tahuan atau bahkan menyepelekan kesehatn anda. Untuk itu persiapkan diri anda sebaik mungkin dan Be Smart Traveller !

Selasa, 02 Desember 2014

Pelatihan P3K Bagi Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Dumai

Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak dapat diperkirakan kapan dan dimana terjadinya, namun kecelakaan dapat di kendalikan dengan hirarki pengendalian bahaya, yaitu meminimalisir, mengganti sumber bahaya, administrasi dan pengggunaan alat pelindung diri. Kita sering kali berada dalam situasi dimana terjadi  korban kecelakaan, kemampuan kita sebagai penolong sangat menentukan nyawa serta seberapa parah akibat kecelakaa yang diterima korban.




Tempat kerja merupakan salah satu dari sumber kecelakaan yang sering terjadi. Berdasarkan Peraturan Mentri Tenaga Kerja & Transmigrasi RI No.PER15/MEN/VII/2008 tentang Perrtolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di tempat kerja pada Bab 2, pasal 3 ayat 1 & 2 sebagaimana ayat 1 yang berbunyi : “petugas P3K di tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 harus memliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari kepala instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenaga kerjaan” dan ayat 2 yang berbunyi “untuk mendapatkan lisensi sebagaimana dimaksud pad ayat 1 harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
  1. Bekerja pada tempat kerja yang bersangkutan
  2. Sehat jasmani dan rohani
  3. Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K dan
  4. Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dibidang P3K ditempat kerja yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan

Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Dumai merupakan instansi pemerintah yang dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya beresiko mengalami kecelakaan. Selain itu, dalam fungsi pelayanan kesehatan yang ada, petugas kantor kesehatan pelabuhan sering dihadapkan dengan situasi-situasi kecelakaan seperti penanganan korban kapal tenggelam, korban patah tulang, korban keracunan dan jenis kecelakaan lainnya.


Dalam upaya mewujudkan pelayanan yang prima, kompetensi sumber daya manusia yang tersedia harus mempunyai kemampuan yang cukup, berpengalaman serta ‘update’ pengetahuannya yang berhubungan dengan penanganan kecelakaan tersebut. Untuk mendukung hal tersebut, Kantor Kesehatan Pelabuhan  Kelas III Dumai bekerja sama dengan PT. OSH Indonesia mengadakan pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan.


Pada pelatihan ini, peserta dibekali materi peraturan perundangan yang berkaitan dengan P3K, dasar P3K, anatomi dan faal tubuh, bahaya dan penanganan terhadap sengatan panas, keracunan,papran bahan kimia dan kejang, gangguan lokal (luka, perdarahan, luka bakar, patah tulang) dan tindakan pertolongannya, gangguan kesadaran dan tindakan pertolongannya, gangguan pernafasan serta tindakan pertolongannya dan evakuasi korban. Selain materi, dalam pelatihan ini juga dilakukan praktek sesuai dengan situasi yang ditentukan dengan harapan peseerta lebih mampu melakukan pertolongan sesuai dengan yang diharapkan.



Setelah melakukan training ini, diharapkan petugas kantor kesehatakn pelabuhan kelas III Dumai akan memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam P3K serta mampu mengembangkan sistem penaganan P3K dalam pelaksanaan kerja nantinya.

Rabu, 26 November 2014

Basic Sea Survival Training Bagi Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan Dumai

Kespel Dumai-Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Dumai merupakan salah satu  instansi pemerintah yang dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya berhkaitan dengan laut dan udara. Pekerjaan tersebut dapat berupa pemeriksaan kapal dalam kekarantinaan serta pemeriksaan sanitasi kapal yang pekerjaanya dapat dilakukan di tengah laut pada saat kapal berlabuh atau dipinggir sungai ketika kapal bersandar.


Kecelakaan dapat terjadi kapan dan dimana saja tanpa terkecuali dapat terjadi di Laut. Laut yang bukan merupakan habitat manusia memliki karakteristik yang harus dipahami manusia. Berbagai resiko yang mungkin terjadi dilaut beupa Man Over Boat (orang jatuh kelaut), Platform collapse (anjungan runtuh), kebakaran, kapal tenggelam dan kecelakaan saat transfer pekerja dari jetty ke boat.

Untuk mencegah terjadinya kecelakaan serta meminimalir resiko yang terjadi pada petugas KKP, maka perlu peningkatan kemampuan petugas dalam situasi berbahaya tersebut, salah satunya  adalah Basic Sea Survival (kemampuan keselamatan dan bertahan di air). Basic Sea Survival(BSE)merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang ketika menghadapai situasi/kecelakaan di perairan sehingga pada kondisi tertentu seseorang harus berjuang dan bertahan.


Kemampuan yang dimiliki seseroang setelah melakukan pelatihan BSE adalah mampu mengenal dan menggunakan peralatan survival dan teknik survive, penggunaan liferaft dan teknik manajamen dalam liferaft, survival diperairan dingin dan iklim tropis, mampu melompat ke air dengan aman dari ketinggian, berenang dan menarik korban dengan life jacket dan memanjat liferaft dan cargonet.


Dalam upaya peningkatan kemampuan petugas dalam pelaksanaan tugas fungsinya, petugas KKP Dumai melaksanakan pelatihan BSE. Dalam kegiatan ini bertindak sebagai pelatih adalag PT.OSH Indonesia. kegiatan ini berlanagsung selama dua hari di gedung dan GOR pertamina Simprug. Selain pemaparan materi, demo dan praktek langsung situasi dilaut dilakukan lebih memberi kepercayaan diri dan kemampuan petugas dalam situasi yang sebenarnya.

Minggu, 21 September 2014

Hari Perhubungan Nasional Kota Dumai Tahun 2014

KESPELDUMAI,- Pemerintah Kota Dumai memperingati Hari Perhubungan Nasional (HARHUBNAS) dipusatkan di halaman eks. kantor Walikota Dumai, Jala HR Soebrantas, Kecamatan Dumai Timur. Wakil Wali Kota Dumai, Agus Widayat bertindak sebagai pemimpin upacara. Dalam pidatonya, Wakil Walikota Dumai Agus Widayat mengajak segenap insan perhubungan agar dapat terus memantapkan komitmennya untuk bekerja lebih keras dan cerdas dalam melaksanakan program-programnya. Saat ini permasalahan yang dihadapi oleh sektor transportasi semakin kompleks. Aksesibilitas, keterjangkauan, transportasi massal, kelanjutan reformasi transportasi dan kepastian regulasi dalam penyelenggaraan transportasi menjadi isu yang harus segera diselesaikan, Rabu (17/9/14).
KKP Kelas III Dumai dalam Peringatan HARHUBNAS 2014
Tema dalam kegiatan tahun ini adalah melalui peringatan HARHUBNAS Kita Tingkatkan Pembangunan Sektor Transportasi Menuju Indonesia Yang Semakin Maju dan Sejahtera. Tahun 2014 ini, Pemerintah Kota Dumai kembali menerima penghargaan Wahana Tata Nugraha dari Menteri Perhubungan EE Mangindaan di Jakarta. Penghargaan ini merupakan yang kedua kalinya diterima oleh Kota Dumai untuk bidang Pengelolaan Lalu Lintas. Penyerah penghargaan ini diwakili oleh Assisten II Bagian Pembangunan Syamsudin didampingi Kepala Bidang Pengendalian dan Operasional Marjohan, di Jakarta Kamis (11/9/14).

Penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN) merupakan penghargaan yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepada kota-kota yang mampu menata transportasi publik dengan baik. Penghargaan dilakukan atas kategori kota metropolitan, kota besar, kota sedang dan kota kecil. Aspek penataan transportasi yang berkelanjutan dan berbasis kepentingan publik dan ramah lingkungan mendapat pertimbangan terbesar dalam penilaiannya.

Dalam peringatan HARHUBNAS ini, Tim Kantor Kesehatan Pelabuhan ikut hadir dalam Pleton gabungan dari instansi Bea dan Cukai, Imigrasi dan Karantina. Selain itu, tim Kantor Kesehatan Pelabuhan menjadi Tim Kesehatan pada kegiatan ini dengan penyediaan tenaga Medis dan Ambulance. Hingga berakhirnya kegiatan, tidak terdapat korban sakit dan jatuh pingsan.

Minggu, 14 September 2014

Functional Sections Health And Medical Provide AEP Functionality



The Health and Medical function addresses the activities associated with the provision of emergency health and medical services at the airport. For the purposes of this section, health and medical include emergency medical service (EMS), public health, environmental health, mental health, and mortuary services. Related activities include:
  • Treatment, transport, and evacuation of the injured 
  • Removal of the dead; and disease control activities related to sanitation 
  • Prevention of contamination of water and food supplies during response operations during and after an emergency 
  • Depending on the needs and resources of a particular airport, consideration may be given to the preparation of separate sections for these functions
Situation and Assumptions. This section provides an overview and general assessment of the Health and medical capabilities of the airport to support emergency situations. Since most airports cannot sustain on-airport deliberate health and medical capabilities, this section should describe the capabilities of the surrounding communities it serves. This section should focus on:
  1. The airport’s capability to provide medical care, treatment, and transportation. 
  2. The overall support to victims, response personnel, and the general public during the emergency response and recovery phases. 
  3. Limitations or situations which may limit health and medical support. For example, those airports located in more remote areas may have limited medical/hospital support. Any such limitations should be discussed in this section. 
  4. Assumptions may include:
  • Maximum coordination and efficient use of off-airport medical resources will be required since this section addresses primarily large scale emergency and disaster events that would involve sufficient casualties and/or fatalities which may overwhelm local medical, health, and mortuary services capabilities. 

Minggu, 07 September 2014

Airport Emergency Plan

 “ telah terjadi kecelakaa pesawat saat melakukan pendaraan di Bandara X. Terlihat timbulan api yang berasal dari pesawat dan terdapat korban luka dan meninggal”

Berikut ilustrasi kejadian kecelakaan pesawat yang terjadi saat pesawat di Bandara X akan
melakukan pendaratan. Kejadian tersebut merupakan salah satu poin dalam penanggulangan keadaaan darurat di bandara (Airport Emergency Plan). Keadaan darurat yang dimaksud dalam AEP adalah (Peraturan Dirjenhub udara KP.378 tahun 2011) :
  1. Keadaan darurat melibatkan pesawat udara meliputi kecelakaan pesawat di bandar udara, kecelakaan pesawat disekitar bandar udara 5 NM (± 8 km), keadaan darurat dengan pesawat udara sedang terbang, gangguan tindakan melawan hukum terhadap pesawat udara, ancaman bom terhadap pesawat udara, keadan darurat saat pesawat didarat, siaga ditempat dan siaga cuaca.
  2. Keadaan darurat tanpa melibatkan pesawat udara meliputi ancaman bom yang melibatkan gedung di bandar udara dan kebakaran gedung dibandar udara.

Dokumen AEP (Airport Emergency Plan) merupakan salah satu dokumen wajib yang harus dimiliki bandara sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 24 Tahun 2009 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulations Part 139) tentang Bandar Udara. Dokumen ini menjadi pegangan untuk penaggulangan keadaan darurat baik didalam maupun diluar kawasan bandar udara radisus 5 mile / 8 km. Rencana AEP ini juga tertuang dalam pasal 219 ayat 4 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009 yang berbunyi bahwa untuk menjaga dan meningkatkan kinerja fasilitas, prosedur, dan personel, Unit penyelenggara bandar udara atau badan usaha bandar udara wajib melakukan pelatihan penanggulangan keadaan darurat secara berkala dan Pasal 345 menyebutkan bahwa Unit penyelenggara bandar udara dan badan usaha bandar udara wajib membuat program penanggulangan keadaan darurat. Ketentuan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization/ICAO), pada Annex 14 tentang Aerodromes Chapter 9.1 menyebutkan bahwa setiap bandar udara wajib membuat dan memiliki dokumen Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat (Airport Emergency Plan Doc.).

Dalam pelaksanaanya, Tim AEP ini tergabung dalam Anggota Komite Penanggulangan Keadaan
Darurat, beberapa unit instansi yang tergabung diantaranya seperti : Kepolisian dan TNI setempat CIQ, Kantor Pelabuhan, Dinas Pemadam Kebakaranl dan Kabupaten, Dinas Kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, BASARNAS, Rumah Sakit Daerah Maupun Swasta serta beberapa pihak lainnya.


Sabtu, 21 Juni 2014

Sosialisasi HIV-AIDS dan TBC Bagi Masyarakat Pelabuhan Dumai

Kespel Dumai-Untuk mewujudkan masyarakat pelabuhan yang sehat dan mandiri, pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Dumai melakukan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan mengenai HIV-AIDS dan Tuberulosis (TBC) kepada masyarakat pelabuhan Dumai. Peserta sosialisasi ini berjumlah 120 orang yang meliputi agen pelayaran, Puskesmas, Dinas Kesehatan, serta RSUD Kota Dumai, Badan Narkotika Kota Dumai, CIQP Pelabuhan Dumai, Pemuka agama serta tokoh masyarakat disekitar pelabuhan Dumai.
Narasumber pada kegiatan ini adalah Dinas Kesehatan Provinsi Riau dan KPA Kota Dumai. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakill Walikota Dumai yang juga merupakan Seketaris KPA Kota Dumai.  Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan ini berjalan atraktif, terlihat dari banyaknya peserta yang bertanya kepada narasumer serta pemecahan masalah-masalah yang ditemui dilapangan baik oleh petugas kesehatan maupun agen pelayaran.
Peserta Sosialisasi HIV-AIDS dan TBC


Dalam sambutannya, Plh.Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Dumai, Syafriwal, SKM mengajak seluruh masyarakat berperan serta mewujudkan masyarakat pelabuhan yang bebas dari HIV-AIDS serta TBC. Hal ini dapat dicapai dengan adanya kerja sama lintas sektoral yang baik, selain itu adanya pemberian informasi yang cepat dan akurat mengenai kasus HIV-AIDS dan TBC  yang disampaikan masyarakat kepada pihak kesehatan dapat menjadi langkah antisipasi menularnya penyakit tersebut. Diakhir sambutannya, Plh.Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Dumai, mengajak seluruh agen pelayaran untuk bekerja sama dalam pencegahan HIV-AIDS, mengingat banyaknya Anak Buah Kapal (ABK) yang datang dari luar negeri maupun dalam negeri yang memasuki kota dumai yang merupakan faktor resiko terjadinya penularan HIV-AIDS.
Arahan Wakil Walikota Dumai selaku Seketaris KPA Kota Dumai



Diakhir kegiatan ini, Narasumber kembali menguatkan komitmen peserta untuk mencegah HIV-AIDS dan TBC dan membrikan reward kepada para penanya. Dan dalam kesempatan ini juga dilakukan pemeriksaan darah oleh klinik VCT RSUD Kota Dumai sebagai upaya deteksi dini penyakit HIV-AIDS. 

Minggu, 09 Maret 2014

Cara Kerja Aman (Job Safety Procedure) Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan



Pada saat kapan anda harus melakukan pembersihan, desinfeksi atau sterilisasi?
Sesuai hirarki pengendalian resiko, pada saat kapan anda melaukan eliminasi, subtitasi atau bahkan tidak melakukan keduanya ?
Bagaimana penanganan laundri,Sprei dan pakaian medis yang terinfeksi ?


Keselamatan hal mutlak yang dibutuhkan oleh setiap pekerja, termasuk pada fasilitas pelayanan kesehatan. Pekerja pada fasilitas kesehatan memiliki resiko bahaya yang tinggi, baik bahaya kimia, fisika dan biologis. Pekerja pada fasilitas kesehatan selalalu beraktifitas dengan pasien dan keluarga pasien yang dapat menjadi sumber bahaya bagi pekerja. Berdasarkan buku panduan keselamatan dan kesehatan pekerja pada pelayanan kesehatan yang diterbitkan oleh ILO & WHO , terdapat beberapa cara bekerja aman yang sering digunakan pada fasilitas kesehatan. Cara kerja tersebut dapat meminimalisir resiko bagi pekerja sehingga pekerja dapat terbebas dari bahaya penyakit yang mungkin menular kepada pekerja.