Kamis, 16 Desember 2010

ERGONOMI

Add caption

A.Pengertian Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata-kata dalam bahasa Yunani yaitu Ergos yang berarti kerja dan Nomos yang berarti ilmu, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan pekerjaannya. Definisi ergonomi dapat dilihat dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut:
1.Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk,peralatan,fasilitas,produser,dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja.
2. Secara tujuan
Tujuan ergonomi ada dua hal.yaitu: peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan,seperti peningkatan keselamatan kerja,pengurangan rasa lelah dan sebagainya.
3. Secara Pendekatan
Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatsan-keterbatasan manusia,kemampuan,karakteristik tingkah laku dann motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.
Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut diatas, definisi ergonomi dapat terangkumkan dalam definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem,pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas,keselamatan,kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.
Beberapa pakar juga memberikan defenisi merka sendiri tentang ergonomi.  Mc Cormicks dan Sanders (1987) membagi ergonomi kedalam  tiga pendekatan:
1.Fokus Utama
Fokus utama ergonomi adalah mempertimbangkan manusia dalam perancangan benda kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja. Fokus ergonomi adalah interaksi manusia dengan produk, peralatan, fasilitas, lingkungan dan prosedur dari pekerjaan dan kehidupan sehari-harinya. Ergonomi lebih ditekankan pada faktor manusianya dibandingkan ilmu teknik yang lebih menekankan pada faktor-faktor nonteknis.
2.Tujuan
Ergonomi mempunyai dua tujuan utama yaitu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan dan aktifitas-aktifitas lainnya serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, termasuk memperbaiki keamanan, mengurangi kelelahan dan stres, meningkatkan kenyamanan, penerimaan pengguna yang besar dan memperbaiki kualitas hidup.
3. Pendekatan Utama
Pendekatan utama mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang relevan tentang kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan motivasi manusia terhadap desain produk dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat menggunakannya.
Inti dari ergonomi adalah suatu prinsip fitting the task/the job to the man, yang artinya pekerjaan harus disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki oleh manusia. Hal ini menegaskan bahwa dalam merancang suatu jenis pekerjaan perlu memperhitungkan keterbatasan manusia sebagai pelaku kerja. Keadaan ini akan memberikan keuntungan dalam proses pemilihan pekerja untuk suatu pekerjaan tertentu. Mencari pekerja yang mampu menahan beban kerja yang berat bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Namun mengupayakan cara kerja lainnya yang mengurangi beban kerja sampai berada dalam batas kemampuan rata-rata, akan mempermudah kita dalam mencari pekerja yang sanggup melaksanakan pekerjaan tersebut. Prinsip dasar dalam ergonomi adalah bagaimana agar Demand < Capacity (bisa dilihat di posting tentang analisis beban kerja), sehingga perlu diupayakan agar beban kerja fisik yang diterima oleh tubuh saat bekerja tidak melebihi kapasitas fisik manusia (pekerja) yang bersangkutan.
B.Peran dan Bidang Kajian Ergonomi
Peran ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
  1. Perancangan produk.
  2. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja.
  3. Meningkatkan produktivitas kerja.
Sesuai dengan definisi ergonomi yang telah disebutkan, dapat dikatakan bahwa kajian utama dari ergonomi adalah perilaku manusia sebagai objek utama sesuai dengan prinsip fitting the task/the job to the man. Pada berbagai literatur terdapat perbedaan dalam menentukan bidang-bidang kajian ergonomi. Pada prinsipnya perbedaan tersebut hanya pada pengelompokkan perilaku-perilaku manusianya.
Pengelompokkan bidang kajian ergonomi yang secara lengkap dikelompokkan oleh Dr. Ir. IftikarZ.Sutalaksana (1979) sebagai berikut:
1.Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang dikeluarkan dalam suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang dapat meminimasi konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja.
2.Antropometri, yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia untuk digunakan dalam perancangan peralatan dan fasilitas sehingga sesuai dengan pemakainya.
3.Biomekanika yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot manusia dalam bekerja dan sebagainya

4.Penginderaan, yaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya dengan masalah penginderaan manusia, baik indera penglihatan, penciuman, perasa dan sebagainya.
5.Psikologi kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan dengan efek psikologis dan suatu pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadinya stres dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan bidang penyelidikan yang dilakukan, ergonomi dikelompokkan atas empat bidang penyelidikan, yaitu:
1.Penyelidikan tentang Display
Display adalah suatu perangkat antara (interface) yang menyajikan informasi tentang keadaan lingkungan dan mengkomunikasikannya kepada manusia dalam bentuk angka-angka, tanda-tanda, lambang dan sebagainya. Informasi ini dapat disajikan dalam bentuk statis, misalnya peta suatu kota dan dapat pula dalam bentuk dinamis yang menggambarkan perubahan variabel menurut waktu, misalnya speedometer.
2.Penyelidikan tentang kekuatan fisik Fisik Manusia
Dalam hal ini penyelidikan dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas manusia pada saat bekerja dan kemudian dipelajari cara mengukur aktivitas-aktivitas tersebut. Penyelidikan ini juga mempelajari perancangan obyek serta peralatan yang disesuaikan dengan kemampuan fisik manusia pada saat melakukan aktivitasnya.

3.Penyelidikan tentang ukuran tempat kerja
Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan dimensi tubuh manusia agar diperoleh tempat kerja yang baik sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan manusia.

4.Penyelidikan tentang lingkungan kerja
Penyelidikan ini meliputi kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas, seperti pengaturan cahaya, kebisingan suara, temperatur, getaran dan lain-lain yang dianggap mempengaruhi tingkah laku manusia.

Program Ergonomi meliputi:
1.Penentuan problematik
Gejala absenteisme, ganti-ganti kerja, dll yang merupakan akibat beban kerja yang berlebihan organisasi kerja tidak baik. Kesulitan melakukan latihan kerja à cermin buruknya desain peralatan dan cara kerja
2.Percobaan untuk pemecahan
3.Pengetrapan hasil percobaan
4.Pembuktian efektifitas

Prinsip-prinsip ergonomi sebagai pegangan:
1.Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi bentuk, susunan, ukuran dan penempatan mesin,penempatan alat-alat petunjuk, cara-cara harus melayani mesin (macam gerak, arah dan kekuatan)
2.Normalisasi ukuran mesin dan alat-alat industri,harus di ambil ukuran terbesar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara,sehingga ukuran tersebut dapat dikescilkan dan dapat diayani oleh tenaga kerja yang leih kecil. Contoh:kursi dan meja yang dapat di naik turunkan atau di maju mundurkan.
3.Ukuran antropometri terpenting seperti dasar ukuran-ukuran dan penempatan alat-alat industri:
Berdiri:            a.tinggi badan berdiri              b.tinggi bahu               c.tinggi siku
d.tinggi pinggul                       e.depa                          f.panjang lengan
Duduk:            a.tinggi duduk
b.panjang lengan atas
c.panjang lengan tangan dan bawah
d.jarak lekuk lutut-garis puggung e.jarak lekuk lutut-telapak.
4.Ukuran-ukuran kerja
a.pada pekerjaan tangan yang dilakukan, tingggi kerja sebaiknya 5-10 cm. Dibawah tinggi siku
b.apabila bekerja berdiri dengan pekerjaan di atas meja dan jika dataran tinggi siku disebut O maka hendaknya dataran kerja :
- untuk pekerjaan yang memerlukan ketinggian 0+ (5-10) cm
- untuk pekerjaan yang memerlukan ketinggian 0 - (5-10) cm
- untuk bekerja berat atau perlu mengangkat barang berat yang memerlukan otot punggung 0 - (10-20)cm
5.dari sudut otot,sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk. Sedangkan dari sudut tulang,dinasehatkan duduk tegak agar punggung tidak bungkukdan otot perut tidak lemas. Maka di anjurkan pemeliharaan sikap duduk yang diselingi istrahat sedikit membungkut
6.tempat duduk yang baik memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.tingggi dataran duduk yang dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai dengan tinggi lutut,sedangkan paha dalam keadaan latar.
b.papan tolak punggung yang tingginya dapat di atur dan menekan pada punggung.
c. lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm
d.tinggi meja merupakan ukuran dasar sesuai dengan 4c.
7.Pekerjaan berdiri sedapat mungkin dirubah menjadi pekerjaan duduk. Dalam hal tidak mungkin kepada pekerja diberi tempat dan kesempatan untuk duduk
8.Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-370 ke bawah sedangkan untuk pekerjaan duduk 32-440 ke bawah. Arah penglihatanini sesuai dengan sikap kepala yang istrahat
9.Ruang gerak lengan ditentukan oleh punggung lengan seluruhnya dan lengan bawah. Pegangan-pegangan harus diletakkan di daerah tersebut lebih-lebih bila sikap tubuh tidak berubah
10.Macam gerakan yang kontinu dan berirama lebih diutamakan sedangkan gerakan sekonyong-konyong pada permulaan dan berhenti dengan paksa sangat melelahkan. Gerakan ke atas harus dihindarkan. Berilah papan penyokong pada sikap lengan yang melelahkan. Hindarkan getaran-getaran kuat pada kaki dan lengan
11.Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum yaitu beban yang dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling eisien. Beban fisik maksimum telah ditentukan oleh I.L.O sebesar 50 kg. cara mengangkat dan menolak hendaknya memperhatikan hokum-hukum ilmu gaya dan dihindarkan penggunaan tenaga yang tidak perlu. Beban hendaknya menekan langsung pada pinggul yang mendukungnya
12.Gerakan ritmis seperti mendayung, mengayuh pedal, memutar roda, dan lain-lain memerlikan rekuensi yang paling optimum yang menggunakan tenaga paling sedikit. Misalnya frekuensi 60/menit mengayuh pedal dirasakan enteng
13.Apabila seseorang pekerja harus berjalan pada jalan menanjak atau naik tangga maka derajat tanjakan optimum adalah sebagai berikut:
-        jalan menanjak           1.k.100
-       tangga rumah             1.k.300
-            tangga                                    1.k.700
      Dengan anak tangga bergerak antar 20-30 cm tergantung pada pembebanan
14.Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam lebih dari itu efisiensi dan kwalitas kerja sangat menurun
15.Waktu istrahat didasarkan kepada keperluan atas dasar pertimbangan ergonomic. Harus dihindari istrahat-istrahat sekehendak tenaga kerja, istrahat oleh karena turunyya kapasitas tubuh dan istrahat curian
16.Beban tambahan akibat lingkungan sebaiknya ditekan menjadi sekecil-kecilnya
17.Daya penglihatan dipelihara sebaik-baiknya terutama penerangan yang baik
18.Kondisi mental psikologis dipertahankan dengan adanya premi perangsang motivasi, iklim kerja, dan lain-lain
19.Beban kerja dinilai dengan mengukur O2, frekuensi nadi,suhu badan, dan lainnya
20.Batas kesanggupan kerja sudah tercapai apabila bilangan nadi kerja mencapai angka 30/menit diatas bilangan nadi istrahat. Sedangkan nadi kerja tersebut tidak terus menanjak dan sehabis kerja pulih kembali kepada nadi istrahat sesudah lebih kurang 15 menit
Kondisi berikut menunjukkan beberapa tanda-tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik:
  • Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan
  • Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan
  • Pekerja sering melakukan kesalahan (human error)
  • Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang
  • Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja
  • Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang
  • Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok
  • Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup
  • Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
  • Komitmen kerja yang rendah
  • Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan
Dengan memahami pentingnya aspek ergonomi ini, setiap perusahaan sudah seharusnya melakukan evaluasi secara integratif untuk menilai sejauh mana kecocokan rancangan sistem kerja yang ada (termasuk pekerjaan itu sendiri) dengan para pekerjanya.  Unsur-unsur sistem kerja yang dinilai meliputi mesin dan alat, material, metode kerja, lingkungan fisik (pencahayaan, termal, kebisingan, dll), tata letak komponen dan ruang kerja (workplace and workspace).  Evaluasi ergonomi ini penting terlepas dari apa pun bentuk perusahaan tersebut, mulai dari industri manufaktur, industri jasa, ataupun industri proses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar