Sampah
farmasi merupakan salah satu jenis sampah medis atau merupakan sampah berbahaya
yang pengelolaannya harus diperhatikan. Benerapa contoh sampah farmsi adalah
obat – obatan,vaksin,serum,yang tidak digunakan lagi,botol obat yang beresidu, dl.
Pengelolaan
sampah farmasi merupakan suatu kegiatan yang cukup banyak diantara lain
mencakup penimbulan sampah, penyimpanan, penampungan, pengolahan hingga pembuangan
akhir.
a.
Penimbulan
Sampah (pemisahan dan pengurangan)
Sampah farmasi dapat
bersal dari industri farmasi, rumah sakit(tempat pelayanan kesehatan lainya),
dan perumahan. Kawasan pemukiman mengahsilkan sampah farmasi seperti obat –
obatan, tetapi karena jumlahnya tidak banyak. Proses pemilahan dan reduksi sampah
h maka penggunaanya dilakukan bersama – sama dengan sampah domestik. Bila suatu
daerah dengan tata ruang terncana baik, yaitu kawan industri terpisah dengan
kawasan pemukiman maka penanganan buangan akan lebih mudah.
Proses
pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang kontinyu yang
pelaksanaanya harus mempertimbangkan :
- kelancaran penanganan dan penampungan sampah
- pengurangan Volume dengan perlakuan pemisahan limbah berbahaya(farmasi)
- pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis sampah untuk efisiensi biaya, petugas dan pembuangan.
b.
Penyimpanan ( storage)
Penyimpanan merupakan
kegiatan penampungan sementara sampah farmasi sampai jumlahnya diangkut hingga
dipindahkan ketahap penam pungan.
Hal ini dilakukan dengan pertimbangan efisiensi dan nilai ekonomis.
Penyimpanan sampah
farmasi untuk waktu yang lama tanpa kepastian yang jelas untuk memindahkan
ketempat panempungan tidak diperbolehkan. Penyimpanan dalam jumlah banyak dapat
dikumpulkan dilokasi pengumpulan sampah farmasi. Sampah farmasi yang dihasilkan
disimpan seentara didalam kontainer yang tertutup dan kedap air. Kapasitas
container penyimpanan harus diperhatikan agar sampah tidak berkeluaran atau
overload.
c. Penampungan/pengumpulan Sampah sebelum diangkut
Penampungan
sampah ini harus memiliki sifat kuat, tidak mudah bocor, terhindar dari sobek
atau pecah, mempunyai tutup dan tidak overload. Penampungan dalam sampah
farmasi dilakukan perlakuan standarisasi seperti telah ditetapkan dalam Permenkes RI no. 986/Men.Kes/Per/1992.
Penampungan sampah cair farmasi
dapat dimasukkan kedalam drum dan disimpan dalam gudang atau tempat yang
terlindung dari panas dan hujan. Sampah dalam bentuk padat disimpan dalam wadah
yang kuat ( tidak mudah bocor atau rusak) dan kedap air. Penyimpanan harus
mempertimbangkan jenis dan jumlah sampah yang dihasilkan. Contoh, untuk
buangan/sampah yang korosif disimpan
dalam wadah yang terbuat dari fiberglass.
d. Pengangkutan
Pengangkutan
dibedakan menjadi 2, yaitu:
- Pengangkutan internal (pengangkutan ketempat pengolahan sampah yang berada pada tempat penimulan sampah ita sendiri) adalah pengakutan berawal dari titik penampungan awal atau ke tempat pembuangan atau ketempat incenerator (pengolahan on site). Dalam pengangkutan internal biasanya digunakan kereta dorong yang sudah diberi label dan dibersihkan secara berkala serta petugas serta petugas pelaksana dilengkapi dengan alat proteksi dan pakaian kerja khusus.
- Pengangkutan eksternal (pengangkutan ketempat pengolahan yang tidak berada pada tempat penimbulan sampah) Adalah pengangkutan sampah ketempat pembuangan diluar (of site). Pengangkutan eksternal memerlukan prosedur pelaksanaan yang tepat dan harus dipatuhi petugas yang terlibat. Prosedur tersebut termasuk memenuhi peraturan angkutan lokal. Sampah farmasi diangkut diangkut dalam kontainer khusus, harus kuat dan tidak bocor.
e.
Pengolahan
Sampah farmasi
memerlukan pengolahan sebelum dibuang kelingkungan. Pengolahan ditujukan untuk
mengurangi dan menghilnagkan racun atau detoksitasi, merubah bahan berbahaya
menjadi kurang berbahaya atau untuk mempersiapkan prosese berikutnya.
Metode yang digunakan
untuk mengolah dan membuang sampah farmasi tergantung pada faktor – faktor
khusus yang
sesuai dengan intstitusi yang berkaitan dengan peraturan yang berlaku dan apek
lingkungan yang berpengaruh terhadap masyarakat.
Teknik pengolahan
sampah farmasi yang mungkin diterapkan adalah:
a.
Insenerasi suhu tinggi dan rendah
b.
Inaktivasi
suhu tinggi
c.
Sterilisasi
suhu tinggi
d.
Microwave
treatment
e.
Enkapsulisasi
(peng-imobilisasian)
Pengolahan sampah yang dilakukan tergantung jenis dan karakter
sampahnya. Contohnya, sampah jenis ampul ( obat anti keganasan) diolah dengan
metode enkapsulisasi yaitu tong di isi
dengan obat anti keganasan, tong hrus di isi dengan obat anti keganaan
hingga 50 0/0
kapsitasnya kemudian di
tambahkan dengan campuran kapur,semen dan air dengan perbandingan berat 15:15:5
hingga tong penuh. Hingga terbentuk balok yang kuat dan padat dimana limbah
akan terisolasi secara relatie aman.
Pembuangan akhir (final disposal)
Pembuangan akhir (final disposal)
Setelah proses
pengolahan kuantitas sampah menjadi sedikit. Hasil dari pengolahan sampah
dengan insenerasi menghasilkan abu yang sedikit. Abu atau sisa pengolahan
dengan insenerasi ini dapat digunakan untuk penimbun tanah. Sampah farmasi
tidak berbahaya lagi bila telah diolah dengan insenrasi.
CATATAN
DALAM PENGELOLAAN SAMPAH FARMASI:
n
Bahan kontainer harus sesuai dengan
karakter limbah atau sampah
n
Semua kontainer ( wadah/tempat sampah)
baik pada tahap penimbulan sampai tahap pengolahan harus kuat, kedap air dan
harus disimpan di area yang tertutup untuk melindungi resiko bahaya dari sampah
farmasi.
n Adanya
pemisahan area yang mengahasilkan
sampah farmasi dapat menyulitkan dalam pengelolaan
sampah baik
dalam efektifitas kerja dan efisiensi biaya.
n Diperlukan peilahan sampah – sampah yang mungkin dapat
digunakan lagi seperti, desinfktan yang penggunaanya tidak terbatas.
n Perlu adanya proteksi diri terhadap pekerja yang
mengelola sampah farmasi agar tehindar dari kecelakaan kerja.
DAFTAR
PUSTAKA :
Salmiyatun(2003),Panduan pembuangan limbah perbekalan
farmasi,EGC; Jakarta
SITUS WEB :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar