Minggu, 15 Januari 2012

Faktor Resiko Ergonomi Pada Pembebanan Fisik


Prinsip dasar dalam ergonomi adalah bagaimana agar Demand < Capacity, sehingga perlu diupayakan agar beban kerja fisik yang diterima oleh tubuh saat bekerja tidak melebihi kapasitas fisik manusia (pekerja) yang bersangkutan.Untuk mengetahui mengevaluasi suatu pekerjaan berdasarkan kapasitas fisik manusia dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi biomekanika dan sisi fisiologi. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.
Ada sejumlah faktor resiko ergonomi yang erat kaitannya dengan pembebanan fisik, yakni:
  • Masalah postur kerja yang tidak normal
  • Pekerjaan yang berulang (repetitif)
  • Durasi kerja yang lama
  • Pembebanan statis pada otot
  • Tekanan kontak fisik
  • Getaran
  • Temperatur
Resiko-resiko di atas dapat menyebabkan terjadinya permasalahan ergonomi secara fisik, khususnya yang terkait dengan permasalahan sistema oto-rangka (muskuloskeletal disorder).  Beberapa metode sudah banyak dikembangkan untuk mengevaluasi faktor resiko tersebut yang ada pada suatu pekerjaan.
Beberapa metode yang umum digunakan diantaranya:
  • NIOSH Lifting Guide
  • Rapid Upper Limb Assessment
  • Rapid Entire Body Assessment
  • Quick Expossure Checklist
  • dan sebagainya.
1.NIOSH Lifiting Guide
NIOSH Lifiting Guide merupakan panduan dalam aktivitas penanganan material (material handling), khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengangkatan (lifting) dan penurunan (lowering). NIOSH memberikan sejumlah parameter keamanan dalam pelaksanaan aktivitas penanganan material ini. Menurut NIOSH, beban maksimum yang dapat diangkat oleh seseorang pada kondisi “ideal” adalah sebesar 23 kg. Meskipun demikian, seiring dengan menurunnya kondisi ideal tersebut, maka beban yang dapat diangkat akan terus berkurang. Aktivitas pengangkatan akan memberikan resiko cedera jika nilai Lifting Index (LI) > 1. Informasi mendetail tentang penggunaan NIOSH Lifiting Guide ini bisa dilihat di http://www.cdc.gov/niosh/docs/94-110/

2.Rapid Upper Limb Assessment (RULA)
Metode ini digunakan untuk mengevaluasi postur kerja pembebanan fisik yang diterima oleh tubuh bagian atas (upper limb), diantaranya meliputi leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan badan bagian atas (trunk). Metode ini dikembangkan oleh Prof E.N. Corlett dan Dr L. McAtamney pada tahun 1993.Pekerjaan yang banyak membutuhkan aktivitas pada tubuh bagian atas ini (seperti pekerjaan merakit komponen elektronik, menjahit, merakit komponen manufaktur yang berukuran relatif kecil,  inspeksi, dan sebagainya)  akan sesuai jika dievaluasi dengan menggunakan metode ini.

Untuk jenis pekerjaan yang lebih banyak melibatkan seluruh anggota badan akan lebih baik dievaluasi dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) atau dengan menggunakan Quick Expossure Checklist (QEC).Rapid Entire Body Assessment (REBA)

3.Rapid Entire Body Assssment (REBA)
Metode ini relatif sama dengan metode RULA, namun aspek tubuh yang dievaluasi oleh metode ini lebih pada seluruh tubuh.Metode ini dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney pada tahun 2000. Pekerjaan yang melibatkan aktivitas seluruh anggota badan bisa dievaluasi dengan menggunakan metode ini. Contoh REBA Checklist dalam bahasa Indonesia saya upload di sini: reba-worksheet1

4.Quick Expossure Checklist (QEC)
Metode ini selain melibatkan observer sebagai orang yang mengevaluasi pekerjaan, juga melibatkan pekerja yang dievaluasi untuk ikut mengevaluasi pekerjaannya. Evaluasi 2 arah ini selanjutnya akan memberikan hasil evaluasi terhadap suatu pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar